Langsung ke konten utama

Tangkal Isu SARA, Bawaslu Akan Gelar Jambore Lintas Iman


Berdasarkan keterangan Anggota Bawaslu RI, Mochammad Afifuddin, untuk menangkal potensi bahaya isu SARA itu, Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu akan menyelenggarakan sebuah kegiatan semacam Jambore Lintas Iman.


JAKARTA, dawainusa.com – Pilkada serentak 2018 dan pemilu serentak 2019 diindikasikan penuh dengan tantangan. Salah satu tantangannya ialah meletusnya politik identitas dengan pemanfaatan isu berbasis suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut.

Harga Masih Mahal, BBM Satu Harga Perlu Diawasi
Gedung Sekolah Ambruk, Mahasiswa Jogja Galang Solidaritas untuk SDN Boleng
Mahasiswi Turki Gigit Lidah Tukang Ojek Sampai Putus

Berdasarkan keterangan Anggota Bawaslu RI, Mochammad Afifuddin, untuk menangkal potensi bahaya isu SARA itu, Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu akan menyelenggarakan sebuah kegiatan semacam Jambore Lintas Iman. Kegiatan ini, katanya, akan diikuti oleh kalangan muda dari berbagai daerah yang akan melaksanakan pemilu.

“Kami ingin lakukan semacam Jambore Lintas Iman. Harus digelorakan di kalangan muda,” kata Afifuddin di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (26/12) kemarin.

Baca juga: Dana TGUPP 28,5 Miliar: Mendagri Minta Kaji Ulang, Anies Memilih Santai

Menurut Afifuddin, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan politik serta pemahaman akan dampak isu SARA kepada kalangan muda. Sehingga, katanya, mereka akan memiliki kesadaran; pemakaian isu SARA dalam konstentasi politik akan membawa akibat buruk bagi kehidupan bersama.

“Kami harap bisa ada dampaknya,” tutur Afifuddin.

Isu SARA Lebih Bahaya dari Politik Uang

Isu SARA memang sangat potensial menjelang pemilu. Isu ini dinilai memiliki bahaya yang cukup signifikan bagi perjalanan demokratisasi di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Lingkat Madani Indonesia (Lima), Ray Rangkuti menegaskan, bahaya politik berbasis SARA akan lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan politik uang. Hal itu, katanya, dapat dilihat dalam lanskap politik dalam Pilkada DKI Jakarta kali lalu.

“Pengalaman kita di Pilkada DKI Jakarta memerlihatkan bahayanya isu SARA bahkan melebihi bahaya politik uang. Politik uang berbahaya tapi efeknya tidak panjang,” jelas Rangkuti.

Baca juga: Setelah Novanto, Bamsoet Disebut Jadi Kandidat Kuat Ketua DPR

Lebih lanjut, katanya, politik berbasis SARA ini berbahaya dan mudah berkembang karena telah mendapatkan alat legitimasi tertentu seperti dengan memakai dalil kebebasan beragama. Hal ini, katanya, membuat berbagai upaya untuk melawan pratik seperti ini menjadi sangat sulit.

“Bahwa SARA dianggap tidak bermasalah karena perspektif dianya, bukan perspektif demokrasinya. Karena dianggap mengamalkan kepercayaan agama tertentu,” ungkapnya.

Hadapi Isu SARA, Bawaslu Tidak Boleh Sendirian

Sementara itu, Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini mengungkapkan, untuk mencegah biaknya potensi isu SARA ini, mesti ada keterlibatan dari semua pihak terkait. Pihak-pihak terkait itu, katanya, yakni institusi negara, kelompok masyarakat sipil, serta media massa.

“Ekstensifikasi penggunaan politik SARA yang menyimpang dari koridor demokrasi membuat Bawaslu harus melakukan langkah-langkah antisipasi yang maksimal. Tidak bisa sendirian, tetapi harus melibatkan semua pihak terkait,” ungkap Aggraini.

Baca juga: Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Hong Kong

Selain itu, Anggraini juga menjelaskan, saat ini, untuk menangkal bahaya seperti ini, tidak bisa hanya dengan memakai UU Pilkada. Sebab, jelasnya, UU Pilkada yang berlaku sampai saat ini, masih tumpul untuk menghadapi hal itu.

Oleh karena itu, tegasnya, pihak Bawaslu juga mesti bekerjasama dengan berbagai stakeholder tertentu.

“Misalnya Kominfo, Komisi Informasi Publik, Komisi Penyiaran Indonesia, Dewan Pers, Kemendagri, SKPD pada Pemda, platform media sosial dan media massa,” ungkapnya.

Anggraini mengungkapkan peran media massa menjadi sangat penting untuk diperhatikan lantaran selama ini pengaruh media masa sangat signifikan bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.

Untuk itu, katanya, pihak Bawaslu mesti merangkul berbagai media massa yang ada dengan bekerjasama dengan Kominfo supaya dapat memastikan, berbagai informasi yang disajikan melalui berbagai media itu berisi konten-konten yang dapat memberikan efek edukatif bagi para penggunanya.

“Kominfo pasti punya instrumennya. Jadi, membangun kerjasama taktis, menyusun langkah-langkah antisipatif dan responsive atas kampanye politik SARA yang menyasar pilkada dan pemilu,” tutur Anggraini.* (YAH).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sa Pu Juang Yang Engko Buang

Jangan bilang kalo Sa pu perasaan dingin ni akan tumbuh dan menetap, hingga te ada ruang sisa di Sa pu hati buat Engko datang kembali. Sa selalu punya sangka baik buat Engko, Sa te pernah sedikitpun meragukan semua Engko pu alasan, sampe semua Engko pu keputusan Sa selalu terima dengan tulus. Me akhir-akhir ini Sa pu perasaan ragu so mulai tumbuh jo menetap, sampe Sa selalu tanya-tanya pada Sa pu diri, kenapa ee sampe begini ni ka...? Jangan sampe selama ini Sa selalu salah ambil langkah ee...? atau sebaliknya. Atau mungkin karena Sa selalu beri Engko ruang kebebasan, sampe Engko buat ikut Engko pu mau tu ka. Sa bingung le Engko buat sa macam jo orang lain tu ka, Engko te ada rasa miliki Sa tu ka. Sa selalu berjuang dengan semua Sa pu kemampuan biar Engko bisa terima Sa, bisa buat Sa jadi Engko pu rumah paling nyaman, tapi Engko te pernah hargai semua yang Sa buat untuk Engko tu ka....  Jo benar eeee... akhirnya Sa tau apa artinya yang orang-orang biasa sebut bilang "Lelah jo Meny...

Pantai Oa dan Rako-Surga Titipan Tuhan Di Flores

Nusa Tenggara Timur (NTT) Adalah Provinsi Kepulauan dengan berjuta aset wisata dan keberagaman budayanya. Tidak heran jika NTT mempunyai berbagai keunikan Wisata Alam dan budayanya. Kabupaten Flores Timur merupakan Kabupaten dengan keunikan berbagai Destinasi Wisata, di antaranya Wisata Religius Semana Santa Kota Reinha Larantuka, Wisata Bahari, Taman Laut, Taman Kota, Kampung Adat, Kampung Kreatif, Situs-Situs bersejarah dan sebagainya. Tapi ada yang unik dengan salah satu destinasi Wisata Alam Flores Timur yang tidak kalah Indahnya dengan Wisata alam lainnya yaitu Pantai Oa dan Pantai Rako yang terletak di Pantai Selatan Desa Pantai Oa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Desa Pantai Oa memiliki 2 Pantai Pasir Putih yang sangat Indah di hiasi dengan bukit2 yang indah dan Taman Doa serta tempat peninggalan bersejarah lainnya yang melengkapi  uniknya Alam Wisata di Desa Pantai Oa. 1. Pantai Oa Pantai Oa Berada di sebelah Timur Desa Pantai Oa yang ber...

Surganya Wisata Pantai Oa Di Pulau Flores_NTT

Objek Wisata Pantai Oa – Meskipun Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah sangat terkenal dengan Pulau Komodo dan Semana Santa Kota Reinha Larantuka, namun provinsi yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini juga menyimpan segudang destinasi wisata lain yang nggak kalah menarik untuk dieksplorasi, lho.  Khususnya di Kabupaten Fores Timur. Di Flores Timur, anda bisa menikmati wisata pantai, air terjun, gua, dan masih banyak lagi. Penasaran apa saja tujuan tempat wisata di Flores Timur yang paling memukau?, yukhh...  Kita kenali Wisata yang Satu ini. Namanya Pantai Oa, Letaknya di Di Desa Pantai Oa, Kec. Wulanggitang, Kab. Flores Timur_NTT. Berbagai Suguhan Keindahan Alamnya memanjakan mata lho... Dengan Pantai Pasir Putih yg indah dihiasi pegunungan, lautan dan tanjung di sekelilingnya, Sobat juga dapat menikmati Sunset dan Sunrise dari Puncak Bukit Muluwutung atau lebih dikenal dengan Bukit Tanjung Makassar. Bagi sobatku beriman Kristiani, di Pantai...