Langsung ke konten utama

Stikes Nusantara Kupang Dalam Kinerja Meningkatkan Mutu Pendidikan





Stikes Nusantara Kupang Adalah Salah Satu Sekolah Tinggi Kesehatan Yang ada di NTT yang berstatus Terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN PT) dan Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan ( LAMPT Kes). Untuk Tenaga Pengajar yang terkondisi  menggunakan ketentuan sesuai dengan UU Dosen nomor 14 tahun 2005 seperti kualifikasi Penddikan S2/S3, dan memiliki rekam jejak yang berkompeten terkait dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ditemui pada hajatan Wisuda Universitas Widya Mandira (UNIKA) Kupang, Sabtu  22 Desember 2017 di Millenium Ballroom Kupang, Bapak Benediktus Belang Niron.SS.M.Si  sebagai Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan  yang hadir mewakili Pimpinan Stikes Nusantara Kupang, Bapak Rudizon Budiman Dokko Patty, SE,M,M,Kes, mengatakan bahwa kinerja mutu pendidikan sebuah Perguruan Tinggi harus terkondisi sehingga roh akademik kelembagaan tetap ada. Sebagai bentuk pertangungjawaban kinerja  kita terhadap masyarakat public dan pengakuan atas suatu lembaga pendidikan yang menjamin standar minimal sehingga lulusannya memenuhi kualifikasi untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi atau memasuki pendidikan spesialisasi, atau untuk menjalankan praktek profesinya, maka sebuah intitusi / perguruan tinggi wajib melakukan sistem penilaian kualitas Perguruan Tinggi yang biasa di sebut dengan Akreditasi.

Menjadi konsekuensi penilaian yang dilakukan dalam proses akreditasi memiliki tujuan ganda, yaitu menginformasikan kinerja perguruan tinggi kepada masyarakat dan mengemukakan langkah pembinaan yang perlu ditempuh terutama oleh perguruan tinggi dan pemerintah serta partisipasi masyarakat, lanjut Pa Niron

Secara keseluruhan Pergruan Tinggi di Indonesia yang sudah lolos dalam akreditasi intitusi sebanyak  984 Perguruan tinggi dengan predikat A sebanyak 26 PT, Predikat B sebanyak 272 PT dan Predikat C sebanyak 686. Dalam Klasifikasi Klaster Stikes di Indonesia sebanyak 121 dan mendapat predikat A tidak ada, predikat B sebanyak 20 Stikes dan untuk Kopertis Wilayah VIII sebanyak 2 Stikes yaitu Stikes Bali dan Stikes Nusantara Kupang. 

Dalam klasteran wilayah Provinsi NTT Stikes Nusantara Kupang adalah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Pertama yang mendapatkan predikat B dalam akreditasi Institusi. Pa niron juga menambahkan bahwa masyarakat Indonesia umumnya dan NTT khususnya harus memiliki referensi yang maksimal tentang profil sebuah perguruan tinggi karena di kwatirkan akan mengalami persoalan terkait dengan eksisitensi legalitas  sebuah perguruan tinggi yang harus memiliki Capability dan Quality  yang baik sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Hasil peringkat akreditasi yang dikeluarkan oleh BAN-PT penting diketahui oleh masyarakat public karena perguruan tinggi yang terakreditasi merupakan salah satu syarat untuk mengeluarkan sertifikat/ijasah dan ini merupakan mandat dari UU tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS).

Stikes Nusantara Kupang mendapatkan predikat B dalam Akreditasi Institusi karena mampu memenuhi 5 kriteria logis yang ditetapkan oleh BAN PT antara lain; Ijin penyelenggaraan Pendidikn Tinggi, Persyaratan Dan Kelayakan Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi, Relevansi Penyelenggaraan  Program  Pendidikan Dengan Pembangun, Kinerja Perguruan Tinggi dan Efisiensi Pengelolaan Perguruan Tinggi” Kata Pa Niron

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN seorang ibu untuk anaknya, bernama KENFUA' yang ingin menjadi GUBERNUR NTT

Anakku, saya dengar engkau mau calonkan diri menjadi Gubernur NTT? Benarkah? Kalau benar, maka dengarkan pesan mama: Saya berharap, agar engkau menyadari bahwa menjadi pemimipin itu tidak mudah. Tidak semua yang BERPENDIDIDKAN TINGGI  bisa menjadi pemimpin. Tidak semua yang BICARA HEBAT DI PANGGUNG bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang pandai MENGAMBIL HATI bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang PUNYA UANG bisa jadi pemimpin. Saya harap, engkau sadari ini semua, agar engkau bisa MENGUKUR DIRIMU. Jangan mau jadi pemimpin yang setelah dipilih, BINGUNG MAU  BUAT APA? HILANG AKAL dan nampak DANGKAL. Akhirnya engkau diperalat oleh mereka yang mendukungmu dengan uang saat kampanye. Engkau hanya akan jadi boneka dalam kepemimpinanmu. Ingat anakku sayang: Memimpin itu perlu jadi MANUSIA YANG SEIMBANG. Ia harus cerdas, bijaksana, punya komitmen, punya daya juang yang tulus, beriman, rela berkorban dan punya budaya  "RASA MALU" agar tidak mudah jatuh dalam hal-hal yang meng...

Tentang Sa Pu Juang Yang Engko Buang

Jangan bilang kalo Sa pu perasaan dingin ni akan tumbuh dan menetap, hingga te ada ruang sisa di Sa pu hati buat Engko datang kembali. Sa selalu punya sangka baik buat Engko, Sa te pernah sedikitpun meragukan semua Engko pu alasan, sampe semua Engko pu keputusan Sa selalu terima dengan tulus. Me akhir-akhir ini Sa pu perasaan ragu so mulai tumbuh jo menetap, sampe Sa selalu tanya-tanya pada Sa pu diri, kenapa ee sampe begini ni ka...? Jangan sampe selama ini Sa selalu salah ambil langkah ee...? atau sebaliknya. Atau mungkin karena Sa selalu beri Engko ruang kebebasan, sampe Engko buat ikut Engko pu mau tu ka. Sa bingung le Engko buat sa macam jo orang lain tu ka, Engko te ada rasa miliki Sa tu ka. Sa selalu berjuang dengan semua Sa pu kemampuan biar Engko bisa terima Sa, bisa buat Sa jadi Engko pu rumah paling nyaman, tapi Engko te pernah hargai semua yang Sa buat untuk Engko tu ka....  Jo benar eeee... akhirnya Sa tau apa artinya yang orang-orang biasa sebut bilang "Lelah jo Meny...

Pentingnya Politik Keterwakilan Di Lamaholot?

Abdul Munir Sara Kemarin ketika kami ke Kutai Kartanegara-Kaltim dalam suatu acara BM PAN; betapa kagetnya, dia punya APBD sekitar Rp.9 triliun pada tahun 2017, tapi kondisi infrastruktur mengenaskan. Secara regional, terjadi penyusutan angkatan kerja sekitar 61 ribu orang ditahun 2016 berdasarkan data BPS. Penyebabnya harga komoditas global yang menurun sejak 2016; menjadi faktor slow down harga batu bara sebagai komoditas unggulan Kaltim khususnya kabupaten Kukar. Saya sempat bicara dengan teman-teman DPRD II terkait perpolitikan disana. Betapa kagetnya. Untuk mengamankan suara saja, per orang paling rendah Rp.250.000. Bahkan wilayah perkotaan; kisarannya bisa sampe Rp.1 juta per suara. Belum agi wilayah yang susah di Jangkau, di kawasan perbatasan. Ini hampir berlaku masif atau semacam harga pasaran politik transaksional disana. Saya berharap, momok demokrasi macam ini tak terjadi di NTT. Jadi kita bayangkan, seperti apa rupa politik anggaran disana. Sudah bisa dipastikan...