Anakku, saya dengar engkau mau calonkan diri menjadi Gubernur NTT? Benarkah? Kalau benar, maka dengarkan pesan mama:
Saya berharap, agar engkau menyadari bahwa menjadi pemimipin itu tidak mudah. Tidak semua yang BERPENDIDIDKAN TINGGI bisa menjadi pemimpin. Tidak semua yang BICARA HEBAT DI PANGGUNG bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang pandai MENGAMBIL HATI bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang PUNYA UANG bisa jadi pemimpin.
Saya harap, engkau sadari ini semua, agar engkau bisa MENGUKUR DIRIMU. Jangan mau jadi pemimpin yang setelah dipilih, BINGUNG MAU BUAT APA? HILANG AKAL dan nampak DANGKAL.
Akhirnya engkau diperalat oleh mereka yang mendukungmu dengan uang saat kampanye. Engkau hanya akan jadi boneka dalam kepemimpinanmu.
Ingat anakku sayang: Memimpin itu perlu jadi MANUSIA YANG SEIMBANG. Ia harus cerdas, bijaksana, punya komitmen, punya daya juang yang tulus, beriman, rela berkorban dan punya budaya "RASA MALU" agar tidak mudah jatuh dalam hal-hal yang menghancurkan kepemimpinannya.
Saya harap engkau berjuang dengan cara yang baik dan santun. Hargailah sesama CALON yang lain.
Jangan menyerang "KELEMAHAN" diri sesama calon. Karena engkau bukan MALAIKAT SUCI yang turun dari surga untuk dipilih jadi Gubernur di daerah kita yang selama ini dinilai MISKIN dan LEVEL BAWAH dalam segala bidang, termasuk bidang PENDIDIKAN. Engkau boleh serang "KELEHAMAN" ide atau program yang diajukan oleh calon yang lain.
Katakan kepada para pendukungmu agar menjauhi BAHAYA POLITIK SARA yang jauh lebih JAHAT dari politik uang.
Bila nanti engkau terpilih syukur kepada Tuhan. Tapi kalau engkau tidak terpilih, jangan sakit hati. Tetaplah bersyukur dan berjuang.
Karena hidup tidak harus menjadi pemimpin. Memimpin diri sendiri saja kadang sulit bukan main.
Jadi, jangan merasa DUNIA MAU KIAMAT dan Harapan Hidupmu AMBRUK kalau tidak terpilih menjadi GUBERNUR NTT.
Biasa-biasa saja lah anakku. Engkau anak kampung yang dulu sudah aku tanamkan nilai IMAN, ETIKA, MORAL dan KEARIFAN TRADISI. Maka tetaplah menjadi CALON YANG PUNYA INTEGRITAS.
Salam dan doaku untukmu. Dari Mamamu di desa yang terpencil dan sederhana. **
* Surabaya, 29 Desember 2017

Komentar
Posting Komentar