Hari Natal telah tiba.Beragam
aktifitas umat kristiani untuk menyambut hari itu tampak di mana-mana.
Mall paling tanggap dengan acara tahunan umat Kristen tersebut. Adu
discount pun menjadi daya tarik yang digarap oleh para pengelolanya.
Harapannya jelas, calon pembeli tertarik. Promosi pun dilakukan dengan
tidak tanggung-tanggung. Ada yang memajang pohon Natal raksasa, boot
foto bersama santa, pesta lampu natal dan ornament yang menuansakan
natal.
Saya hanya
seorang umat, tak pernah mengkajiilmu teologi. Tetapi mencermati apa
yang terpajang dan oleh banyak orang dimaknai sebagai suasana natal,
sedikit prihatin. Berdasar apa yang saya tahu, Yesus di lahirkan di kota
Betlehem, kota kecil bagian dari wilayah Palestina. Jauh dari wilayah
bersalju, bahkan pohon yang hidup pun lebih pas jika disimbolkan dengan
kurma ketimbang cemara. Kelahiran Yesus pun identik dengan domba, karena
para penggembalalah yang pertama kali menerima kabar baik itu. Jadi
bukan rusa, penarik kereta santa.
Simbol
natal, seperti palungan, domba, penggembala, bintang dan malaikat
pembawa berita tak banyak muncul pada ornament natal. Peran mereka telah
digantikan oleh sinterklass/santaclaus dengan kereta hadiah yang
ditarik oleh beberapa ekor rusa. Cemara, salju dan gegap gempita
menggantikan keheningan, kesederhanaan dan bau kandang domba. Natal yang
barangkali telah tercerabut dari akarnya.
Memang,
keyakinan tumbuh dan berkembang bersama dengan kebudayaan yang dibangun
oleh masyarakat. Pemaknaannya sangat tergantung bagaimana tradisi yang
dihidupi oleh masyarakat suatu wilayah. Tak ada yang keliru dengan
suasana yang kini dihadirkan, namun apabila tidak ada yang mengingatkan
bahwa natal bukan tentang sinterklas tapi tentang Yesus. Bukan tentang
menerima hadiah, tetapi memberi. Bukan tentang kemeriahan tapi kesunyian
kandang domba. Maka bukan tidak mungkin, Natal hanya akan bermakna
seremonial bukan ritual. Mohon pencerahan.

Komentar
Posting Komentar