Langsung ke konten utama

Menggugat 'Hedonisme' Perayaan NATAL

Menggugat 'Hedonisme' Perayaan NATAL
SETIAP AGAMA dan kepercayaan, pasti memiliki saat-saat tertentu dimana keimanan memperoleh penyegaran, dan keyakinan mendapat saat introspeksi. Menarik, karena entah mengapa, momen-momen itu selalu menjadi ajang “dramatisasi” keimanan, seolah hari lain menjadi hari yang biasa-biasa saja dan tidak perlu mendapat ‘perlakuan’ yang sama.

Orang Kristen memasuki bulan Desember, selalu seolah mendapat pencerahan yang berbeda dengan hari atau bulan lain. Wajar saja, karena Desember –tepatnya tanggal 25—adalah momen dimana Yesus Kristus, saviour, lahir. Momen kelahirannya sendiri sudah sering diceritakan dalam berbagai versi. Mengapa harus disambut dengan antusias dan meriah? Banyak pembenaran yang diajukan. Padahal intinya sederhana, janji penyelamatan Allah bukan omong kosong. Nabi-nabi terpilih, ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus, berbusa-busa bernubuat. Dan momen itulah yang sebenarnya dinikmati, dirayakan, dan ditunggu.

Sayangnya, Natal –meski tanggal 25 Desember sendiri masih jadi perdebatan—makin lama makin kehilangan “rohnya.” Banyak orang Kristen yang berbalik mengkultuskan Natal. Originalitas Natal kian tergerus menjadi makna ekonomi yang kemudian berhitung untung rugi. Semua gereja, ‘bersaing’ atau malah berlomba, menjadi yang terbesar, termegah, dan termewah memperingati kelahiran juru selamat, yang ironisnya “hanya” lahir di kandang domba. Paradoksal yang keterlaluan.

Kederhanaan Kristus makin lama makin terkena erosi makna. Bahwa kelahiran Kristus harus disyukuri, itu betul. Tapi kemudian menjadi “Festival Natal” dengan bujet-bujet angka yang luarbiasa, itu yang perlu dikritisi. Natal menjadi keriaan sesaat yang kemudian terhempas begitu saja. Natal sudah menjadi “kunyahan” rutin. Kalau memang enak, telan. Kalau tidak enak, muntahkan.

Penulis tidak anti perayaan Natal. Dalam sudut pandang yang lebih luas, Natal seharusnya bisa menjadi pendobrak batas linier antara “kami” dengan “mereka”, antara “gerejaku” dan “gerejanya”, atau antara Kristen “taat” dengan Kristen “KTP” atau lebih lebar lagi antara “Kristen” atau “Non-Kristen”. Alangkah indahnya, ketika Natal bisa menjadi peristiwa sosial yang bisa dinikmati dan melibatkan semua orang dari banyak perbedaan.

Janganlah Natal hanya menjadi saluran pelepasan, setelah setahun penuh kita asik tenggelam dalam “termpurung” keagamaan kita. Mungkinkah kita melihat setiap hari raya, termasuk Natal, sebagai momen lintas kepercayaan? Mungkinkah kita melintasi kepercayaan kita, agama kita, dan menyapa orang-orang yang “bukan denominasi kita” dan datang dari latar belakang berbeda-beda?

Dalam mimpi penulis, iniah saatnya mengembalikan orisinalitas Natal. Saat yang tepat untuk mengembalikan Natal sebagai momen menguatkan spirit keinsafan [boleh disebut pertobatan] batin yang tidak dipaksakan, tidak “ditakuti” dengan pilihan sorga dan neraka semata, tapi benar-benar menjadi “mata air” dari spirit yang tidak pernah direduksi maknanya. Kalau ternyata masih sekedar hura-hura tahunan saja, sebenarnya kita makin mendangkalkan orisinilitas Natal. Pilihan Anda? Selamat Natal...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN seorang ibu untuk anaknya, bernama KENFUA' yang ingin menjadi GUBERNUR NTT

Anakku, saya dengar engkau mau calonkan diri menjadi Gubernur NTT? Benarkah? Kalau benar, maka dengarkan pesan mama: Saya berharap, agar engkau menyadari bahwa menjadi pemimipin itu tidak mudah. Tidak semua yang BERPENDIDIDKAN TINGGI  bisa menjadi pemimpin. Tidak semua yang BICARA HEBAT DI PANGGUNG bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang pandai MENGAMBIL HATI bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang PUNYA UANG bisa jadi pemimpin. Saya harap, engkau sadari ini semua, agar engkau bisa MENGUKUR DIRIMU. Jangan mau jadi pemimpin yang setelah dipilih, BINGUNG MAU  BUAT APA? HILANG AKAL dan nampak DANGKAL. Akhirnya engkau diperalat oleh mereka yang mendukungmu dengan uang saat kampanye. Engkau hanya akan jadi boneka dalam kepemimpinanmu. Ingat anakku sayang: Memimpin itu perlu jadi MANUSIA YANG SEIMBANG. Ia harus cerdas, bijaksana, punya komitmen, punya daya juang yang tulus, beriman, rela berkorban dan punya budaya  "RASA MALU" agar tidak mudah jatuh dalam hal-hal yang meng...

Tentang Sa Pu Juang Yang Engko Buang

Jangan bilang kalo Sa pu perasaan dingin ni akan tumbuh dan menetap, hingga te ada ruang sisa di Sa pu hati buat Engko datang kembali. Sa selalu punya sangka baik buat Engko, Sa te pernah sedikitpun meragukan semua Engko pu alasan, sampe semua Engko pu keputusan Sa selalu terima dengan tulus. Me akhir-akhir ini Sa pu perasaan ragu so mulai tumbuh jo menetap, sampe Sa selalu tanya-tanya pada Sa pu diri, kenapa ee sampe begini ni ka...? Jangan sampe selama ini Sa selalu salah ambil langkah ee...? atau sebaliknya. Atau mungkin karena Sa selalu beri Engko ruang kebebasan, sampe Engko buat ikut Engko pu mau tu ka. Sa bingung le Engko buat sa macam jo orang lain tu ka, Engko te ada rasa miliki Sa tu ka. Sa selalu berjuang dengan semua Sa pu kemampuan biar Engko bisa terima Sa, bisa buat Sa jadi Engko pu rumah paling nyaman, tapi Engko te pernah hargai semua yang Sa buat untuk Engko tu ka....  Jo benar eeee... akhirnya Sa tau apa artinya yang orang-orang biasa sebut bilang "Lelah jo Meny...

Pentingnya Politik Keterwakilan Di Lamaholot?

Abdul Munir Sara Kemarin ketika kami ke Kutai Kartanegara-Kaltim dalam suatu acara BM PAN; betapa kagetnya, dia punya APBD sekitar Rp.9 triliun pada tahun 2017, tapi kondisi infrastruktur mengenaskan. Secara regional, terjadi penyusutan angkatan kerja sekitar 61 ribu orang ditahun 2016 berdasarkan data BPS. Penyebabnya harga komoditas global yang menurun sejak 2016; menjadi faktor slow down harga batu bara sebagai komoditas unggulan Kaltim khususnya kabupaten Kukar. Saya sempat bicara dengan teman-teman DPRD II terkait perpolitikan disana. Betapa kagetnya. Untuk mengamankan suara saja, per orang paling rendah Rp.250.000. Bahkan wilayah perkotaan; kisarannya bisa sampe Rp.1 juta per suara. Belum agi wilayah yang susah di Jangkau, di kawasan perbatasan. Ini hampir berlaku masif atau semacam harga pasaran politik transaksional disana. Saya berharap, momok demokrasi macam ini tak terjadi di NTT. Jadi kita bayangkan, seperti apa rupa politik anggaran disana. Sudah bisa dipastikan...