Langsung ke konten utama

Makna Natal di Era Modern

Makna Natal di Era Modern


Natal yang setiap tahun dirayakan oleh umat Nasrani di seluruh dunia adalah untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus ke dunia. KelahiranNya yang merupakan berkah bagi umat manusia di dunia ini diyakini untuk menebus dosa-dosa manusia setelah kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Namun,peringatan kelahiran Yesus Kristus di abad modern ini kalau dicermati mengalami penggerusan makna,dimana semakin lama terlihat hura-huranya serta kemewahannya katimbang arti peringatan itu sendiri.

Padahal ada tanda yang diberikan pada kelahiran Yesus Kristus itu yaitu "....seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" . Palungan itu adalah bekas tempat makanan para domba yang ada di kandang. Cerita kelahiran tersebut selalu digambarkan bagaimana Maria yang masih mengandung bayi Yesus berjalan bersama suaminya Yusuf sedang mencari penginapan, tetapi setiap kali meminta untuk menginap ditolak oleh pemilik penginapan. Akhirnya mereka bisa menginap tetapi di sebuah kandang domba ,disitulah pada akhirnya bayi Yesus dilahirkan. Begitu sederhana,jauh dari kemewahan,tidak ada hura-2 karena yang datang juga adalah para gembala domba yang diberitahu oleh Malaikat Tuhan. Memang pada akhirnya ada persembahan yang diberikan oleh orang-2 Majus yang membawa emas,kemenyan dan mur ; Suatu persembahan yang sangat mahal di kala itu,dan memang persembahan tersebut hanya diberikan khusus untuk "Raja" yang sudah diramalkan oleh para Nabi pendahulu.

Cerita Natal diatas bisa dimaknai bermacam-macam menurut versi orang zaman sekarang. Ada yang mengatakan bahwa peringatan kelahiran Yesus Kristus harus sederhana sebagaimana kelahiranNya waktu itu. Tetapi ada juga orang zaman sekarang yang memaknai kelahiranNya seperti orang Majus ,bahwa Yesus Kristus yang lahir ke dunia layak mendapatkan persembahan yang terbaik. Persembahan yang terbaik inilah yang kemudian menjelma menjadi berbagai macam kegiatan,seperti memasang dan menghias pohon Natal yang sangat indah di Mal,berbagai pesta Natal yang "wah" dan kadang terasa aneh karena tidak ada "Yesus Kristus" di dalam pesta Natal tersebut,mungkin kalau ada pun cuman sekedar "khotbah singkat" untuk menjadi pelengkap acara.

Tetapi benarkah mereka yang mengatakan bahwa peringatan Natal di era modern ini dengan segala pernak-pernik yang wah adalah sebagai bentuk persembahan terbaik seperti orang Majus...? Kalau itu yang dimaksudkan oleh orang-2 yang merayakan Natal dengan sangat wah,maka mereka sebenarnya kehilangan makna Natal yang sesungguhnya. Persembahan orang Majus dimaksudkan sebagai penghormatan "tertinggi" kepada "Sang Raja" yang baru lahir. Namun,di era modern ini yang memperingati Natal dengan sangat wah sebenarnya tidak memberikan penghormatan tertinggi,sebab mereka hanya mengeluarkan sedikit dari kekayaannya untuk memberikan kesenangan pada dirinya sendiri atau orang-2 terdekatnya. Kalau mereka mau menghormati "Sang Raja" maka selayaknya mereka datang ke tempat-2 dimana "Sang Raja" itu sekarang berada....,dimana?

Inilah "Sang Raja" itu berada di zaman sekarang ini : "....Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari Saudara-KU yang paling hina ini,kamu telah melakukannya untuk Aku"...

Jadi,dimana DIA...?

Selamat hari Natal bersama dengan orang-2 paling hina di dunia dimana "Sang Raja" itu berada....!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN seorang ibu untuk anaknya, bernama KENFUA' yang ingin menjadi GUBERNUR NTT

Anakku, saya dengar engkau mau calonkan diri menjadi Gubernur NTT? Benarkah? Kalau benar, maka dengarkan pesan mama: Saya berharap, agar engkau menyadari bahwa menjadi pemimipin itu tidak mudah. Tidak semua yang BERPENDIDIDKAN TINGGI  bisa menjadi pemimpin. Tidak semua yang BICARA HEBAT DI PANGGUNG bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang pandai MENGAMBIL HATI bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang PUNYA UANG bisa jadi pemimpin. Saya harap, engkau sadari ini semua, agar engkau bisa MENGUKUR DIRIMU. Jangan mau jadi pemimpin yang setelah dipilih, BINGUNG MAU  BUAT APA? HILANG AKAL dan nampak DANGKAL. Akhirnya engkau diperalat oleh mereka yang mendukungmu dengan uang saat kampanye. Engkau hanya akan jadi boneka dalam kepemimpinanmu. Ingat anakku sayang: Memimpin itu perlu jadi MANUSIA YANG SEIMBANG. Ia harus cerdas, bijaksana, punya komitmen, punya daya juang yang tulus, beriman, rela berkorban dan punya budaya  "RASA MALU" agar tidak mudah jatuh dalam hal-hal yang meng...

Tentang Sa Pu Juang Yang Engko Buang

Jangan bilang kalo Sa pu perasaan dingin ni akan tumbuh dan menetap, hingga te ada ruang sisa di Sa pu hati buat Engko datang kembali. Sa selalu punya sangka baik buat Engko, Sa te pernah sedikitpun meragukan semua Engko pu alasan, sampe semua Engko pu keputusan Sa selalu terima dengan tulus. Me akhir-akhir ini Sa pu perasaan ragu so mulai tumbuh jo menetap, sampe Sa selalu tanya-tanya pada Sa pu diri, kenapa ee sampe begini ni ka...? Jangan sampe selama ini Sa selalu salah ambil langkah ee...? atau sebaliknya. Atau mungkin karena Sa selalu beri Engko ruang kebebasan, sampe Engko buat ikut Engko pu mau tu ka. Sa bingung le Engko buat sa macam jo orang lain tu ka, Engko te ada rasa miliki Sa tu ka. Sa selalu berjuang dengan semua Sa pu kemampuan biar Engko bisa terima Sa, bisa buat Sa jadi Engko pu rumah paling nyaman, tapi Engko te pernah hargai semua yang Sa buat untuk Engko tu ka....  Jo benar eeee... akhirnya Sa tau apa artinya yang orang-orang biasa sebut bilang "Lelah jo Meny...

Pentingnya Politik Keterwakilan Di Lamaholot?

Abdul Munir Sara Kemarin ketika kami ke Kutai Kartanegara-Kaltim dalam suatu acara BM PAN; betapa kagetnya, dia punya APBD sekitar Rp.9 triliun pada tahun 2017, tapi kondisi infrastruktur mengenaskan. Secara regional, terjadi penyusutan angkatan kerja sekitar 61 ribu orang ditahun 2016 berdasarkan data BPS. Penyebabnya harga komoditas global yang menurun sejak 2016; menjadi faktor slow down harga batu bara sebagai komoditas unggulan Kaltim khususnya kabupaten Kukar. Saya sempat bicara dengan teman-teman DPRD II terkait perpolitikan disana. Betapa kagetnya. Untuk mengamankan suara saja, per orang paling rendah Rp.250.000. Bahkan wilayah perkotaan; kisarannya bisa sampe Rp.1 juta per suara. Belum agi wilayah yang susah di Jangkau, di kawasan perbatasan. Ini hampir berlaku masif atau semacam harga pasaran politik transaksional disana. Saya berharap, momok demokrasi macam ini tak terjadi di NTT. Jadi kita bayangkan, seperti apa rupa politik anggaran disana. Sudah bisa dipastikan...