
Manusia memang diciptakan sebagai makluk individu
yang juga merupakan sebagai makluk sosial. Sebagai makluk sosial, manusia juga
diwajibkan mampu berinteraksi dengan individu / manusia lain dalam rangka
memenuhi kebutuhan.
Dalam menjalin kehidupan sosial bermasyarakat,
seorang individu juga akan dihadapkan dengan suatu kelompok – kelompok
yang berbeda dengan dirinya. Salah satu perbedaan itu adalah kepercayaan /
agama dan juga suku.
Dalam menjalin kehidupan sosial, tidak bisa
dipungkiri bahwa dalam dinamika kehidupan akan ada suatu gesekan yang
terjadi antar kelompok masyarakat. Baik yang berkaitan dengan agama atau juga
suku. Dalam rangka menjalin persatuan dan kesatuan dalam masyarakat, maka akan
diperlukan sikap saling menghormati dan juga melindungi sehinga tidak terjadi
gesekan – gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian dan juga peperangan.
Hal ini juga tertera dalam Undang – Undang Dasar
1945 yang berisi bahwa negara juga menjamin kemerdekaan tiap -tiap warganya
untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing – masing. Hal ini juga menegaskan
bahwa kita sebagai warga negara sudah sewajarnya saling menghormati antar hak
dan kewajiban yang ada diantara lingkungan kita sehingga keutuhan dan kerukunan
negara dan juga menjunjung tinggi sikap toleransi antara suku dan umat
beragama.
Perwujudan toleransi dalam kehidupan sehari
– hari contohnya seperti kita memahami setiap perbedaan, sikap saling
tolong menolong antara umat beragama dan juga tidak membeda bedakan suku, ras,
agama serta budaya yang melekat dalam diri orang tersebut.
Jika dilihat dari segi manfaat, toleransi
beragama memang banyak sekali jika kita senantiasa menerapkannya. Akan tetapi
dalam melakukannya kita harus dengan sewajarnya dan tidak bisa berlebihan
karena hal itu akan menyinggung perasaan orang lain dan justru berdampak
merugikan terhadap diri kita sendiri nantinya.
Dari ulasan singkat di atas, saya mencoba
menggambarkan seperti apa toleransi dalam pluralism masyarakat Lamaholot di
Kabupaten Flores Timur, NTT.
Mencontoh tradisi kerukunan beragama orang Lamaholot
NTT bukan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong seperti
yang dianekdotkan banyak orang, tetapi NTT adalah Nusa Tetap Tenteram, karena
semua orang NTT sangat menghormati dan menghargai adanya perbedaan dan aliran
kepercayaan seperti yang ditradisi
Warga Solor Watan Lema yang merupakan turunan Sina-Jawa-Malaka itu datang dari
Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Lembata, Solor dan Alor dengan latar
belakang agama yang berbeda-beda, yakni Katolik, Kristen Protestan dan Islam.
Mereka menyatu dalam acara Natal bersama itu.
Menurut antropolog sosial Dr Chris Boro Tokan SH.MH, asal usul turunan orang
Lamaholot merupakan pengaruh Hindu-Budha dari India Belakang yang diikuti
pengaruh Islam dari Gujarat dan Persia dengan arus aliran persinggahan dari
India ke Malaka serta dari China ke Muangthai kemudian bertemu di pusarana
nusantara dengan persinggahan di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
Pengaruh budaya tersebut kemudian mewariskan puing-puing kerajaan Sriwijaya di
Pulau Sumatera, Candi Borobudur dan Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa, Kerajaan
Kutai di Pulau Kalimantan.
Dari sana arus perubahan bergerak masuk ke Kepulauan Timor, termasuk Kepulauan
Solor sebagai wilayah Lamaholot atau yang sering disebut "Solor Watan
Lema".
Boro Tokan yang juga Dosen Luar Biasa di Bidang Hukum dan Perubahan Sosial Fakultas
Pascasarjana Bidang Ilmu Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu
mengatakan setelah arus tradisional itu membawa babak perubahan sosial di
Lamaholot, giliran arus religius mengisi babak baru Lamaholot melalui
imperialisme bangsa Portugis yang menularkan agama nasrani (Katolik) di
Lamaholot.
Sementara itu, masuknya muslim di Lamaholot disinyalir kuat sebagai perpindahan
arus konflik dari Ternate dan Tidore (Maluku) antara Kesultanan Ternate dan
Tidore (Muslim), meski sebelumnya Islam Malaka telah masuk lebih dahulu melalui
arus Sina-Jawa-Malaka.
"Dari sinilah imperialisme Portugis dan Belanda membagi kekuasaan di
Kepulauan NTT. Portugis berkuasa di Timor Timur dan sebagian wilayah Timor
bagian barat NTT seperti Belu dan Timor Tengah Utara serta Pulau Flores dan
Kepulauan Solor, sedang Belanda berkuasa di Timor Barat serta Sumba dan
Rote,"
Nilai religius (nasrani dan muslim) telah membentuk keyakinan generasi baru
Lamaholot yang tidak dapat menghilangkan warisan keyakinan generasi primitif
Lamaholot yang mengimplementasikan keyakinan itu dengan sebutan "hulen
baat tonga belolo, rera wulan tanah ekan" (yakin akan pencipta langit dan
bumi) dan keyakinan generasi tradisional Lamaholot tentang lewotanah (kampung
halaman).
Manusia Lamaholot dengan pola pikir primitif dapat tertelusuri dalam sejarah
oral asal usul pemuda Patigolo Arakian di Gunung Ile Mandiri dengan isterinya
Watowele, seorang putri titisan dari Ile Mandiri.
Selain itu, dapat ditelusuri pula melalui sejarah oral pemuda Kelake Ado Pehan
dengan isterinya Kwae Sode Boleng, seorang putri titisan Ile Boleng di Pulau
Adonara serta pemuda Uwe Kole dengan seorang putri yang merupakan jelmaan alam
dari ubi hutan.
Tahapan primitif manusia Lamaholot dalam masa transisi ke tahapan tradisional
ditandai dengan adanya Kerajaan Lewo Nama yang dipimpin oleh turunan dari
Patigolo Arakian.
Di bagian timur laut Pulau Adonara, berdirilah Kerajaan Molo Gong dan di
selatan barat daya pulau itu berdirilah Kerajaan Wotan Ulu Mado.
Di bagian tengah Pulau Adonara berdirilah Kerajaan Libu Kliha dan di selatan
berdirilah Kerajaan Lamahala, Terong dan Kerajaan Lian Lolon yang merupakan
cikal bakal Kerajaan Adonara.
Selain itu, ada juga Kerajaan Awo Lolon di Pulau
Pasir dekat Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata di Pulau Lembata serta
Kerajaan Lamakera dan Lohayong di Pulau Solor.
Nilai magic kehidupan yang diyakini manusia primitif Lamaholot saat itu amat
mencengangkan, yakni melalui keyakinan holistik yang menyatukan alam semesta
dengan manusia.
"Sang pencipta, alam semesta dan manusia sebagai satu kesatuan total yang
tidak dapat dipisah-lepaskan melalui ketaatan manusia dalam keyakinan Lamaholot
yang disebut "hungen baat tonga belolo rera wulan tanah ekan".
Keunggulan manusia primitif Lamaholot, dapat menyatukan jagat dalam mengarungi
sebuah misi perjalanan yang jauh dalam bahasa setempat disebut `bua buku
tanah`,
Dari tahapan primitif ke tahapan tardisional itulah
mengalir paham Sina Jawa yang disinyalir membawa masuk ajaran dan keyakinan
Hindu-Budha dalam proses membentuk keyakinan tradisional orang Lamaholot sampai
sekarang.
Tidaklah mengherankan jika dalam renungan Natalnya, KH Saleh Orang mengajak
semua umat beragama di Indonesia untuk belajar tentang tradisi kerukunan umat
beragama dan antaragama orang Lamaholot di NTT.
"NTT bukan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong seperti yang
dianekdotkan banyak orang, tetapi NTT adalah Nusa Tetap Tenteram, karena semua
orang NTT sangat menghormati dan menghargai adanya perbedaan dan aliran
kepercayaan seperti yang ditradisikan orang Lamaholot ini.
Di lingkungan Lamaholot, saat perayaan Natal atau Paskah, umat muslim selalu
bertindak sebagai panitia Natal bersama.
Mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk saudara-saudaranya dari Kristen usai
gereja.
Jika tibanya Hari Raya Idul Fitri, umat Kristiani lah yang bertindak sebagai
panitia halalbihalal untuk saling bersalam-salaman dan memafaatkan satu sama
lain.
Mereka duduk bersama, minum bersama, makan bersama dan setelah itu bubar
bersama-sama.
Tradisi ini sudah lama berlangsung dan tetap dipertahankan oleh orang Lamaholot
sampai detik ini.
Menurut pendapat Airlangga Pribadi, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas
Airlangga Surabaya, hak dan tanggung jawab sebagai warga negaralah yang
membentuk kesadaran berdemokrasi, HAM, dan penghormatan terhadap pluralitas.
Kondisi ini, kata dia, berbeda dengan perjalanan banyak negara Eropa, sejak
awal nasionalisme Indonesia dibangun atas rantai keterkaitan gugus entitas
kultural yang plural dalam etnis, ras, agama, dan golongan.
Sejak awal, pluralisme telah disadari oleh para pendiri republik tidak saja
sebagai hak dari tiap-tiap orang yang mengaku menjadi bangsa Indonesia.
Lebih dari itu, dalam sejarahnya tiap-tiap bagian bangsa ini telah berkorban,
memberi, dan berperan dalam perjuangan membentuk Indonesia.
Dalam narasi sejarah demikian, kata Airlangga, nasionalisme sebagai ikatan
kultural yang berbineka sejak awal telah menubuh dalam kesadaran patriotisme
sebagai komitmen politik untuk membentuk negara-bangsa dengan segenap spirit
kewargaannya.
Konstruksi kebangsaan inilah yang ditekankan Soekarno dalam Lahirnja
Pantjasila: "Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus
mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan
Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat
Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat
Indonesia. Semua buat semua!"
Menurut Airlangga, seruan Bung Karno bahwa Indonesia milik semua sejalan dengan
ajakan Abdurrahman Wahid, bahwa dalam ikatan keindonesiaan tidak boleh ada
kelompok yang diistimewakan satu di atas yang lain.
Sebab tiap-tiap bagian dari bangsa Indonesia memiliki kontribusi penting dalam
pembentukannya.
Orang Lamaholot di NTT yang meliputi Flores Timur daratan, Pulau Adonara,
Lembata, Solor dan Alor sangat menyadari akan pesan yang disampaikan oleh Bung
Karno serta ajakan dari KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid tersebut
sehingga tetap rukun dan damai meski berbeda agama dan aliran kepercayaan.
Oleh: Laurensius
Komentar
Posting Komentar