Langsung ke konten utama

ANALISIS MODEL PEMBANGUNAN ENERGI INDONESIA YG SALAH KAPRAH ■

■ ANALISIS MODEL PEMBANGUNAN ENERGI INDONESIA YG SALAH KAPRAH ■





Oleh : Max Umbu

      Setelah sekian lama Indonesia hidup cukup mewah, dimanja hasil tambang dari ladang minyak ( mayoritas sumbet dana  APBN kita petnah diongkosi hadil ekspirt minyak bumi- pernah juga sbg anggota aktif &  dan berpengaruh OPEC / Asosiasi negara2 penghasil dan pengekspir minyak bumi dunia). Kini Indonesia harus siap menanggung konsekuensi logis dari berkurang/ mengeringnya sumber minyam diladang minyak kita. Masalahnya cukup kompleks, bukan hanya masalah teknis namun juga menyangkut kemampuan memahami filosofi pengelolaan energi  ( elementer).

     Pemerintah dan wakil rakyat harus berani keluar dari FORMAT BAKU model manajemen pengelolaan energi. Tuntutan dan tantangan perubahan global mengharuskan kita menerapkan model adaptasi baru .
     Paket produk hasil kerja  Energi terbarukan kini dan dimasa datang sudan menjadi prasyarat mutu agar bisa layak pentas dipasar global. Tuntutan dan tantangan itu disatu sisi menjadi beban namun dari disisi lain itu nyatanya adalah peluang besar yg hafus segera dikapitalisasi secara jujur, adil dan tentu cerdas.
     Secara fundamental, terdapat beberapa kelemahan dalam hal tingkat pemahaman energi dari para petinggi kita.
Berikut secara kronologis saya coba kemukakan.
Masalahnya :

1. Para saintis & pemerintah  Indonesia masa lalu SALAH KAPRAH, sebab : Meletakkan BBM sebagai SUMBER ENERGI UTAMA. Resikonya itu akhirnya MEBUDAYA pada CARA kita MEMBUAT PROGRAM PEMBANGUNAN ( tampak rapih tapi sebebarnya RAPUH).

2. Harusnya ENERGI MATAHARI ( Negara Tropis) , ENERGI ANGIN dan GELOMBANG ( Negara Kelautan) menjadi SUMBER ENERGI UTAMA. Energi lain : BBM , GAS & BATU BARA sbg CADANGAN !

3. Model dan konsep berpikir salah yg sdh cukup lama dan membudaya itu MENYUMBANG PADA PEMBOROSAN & PENURUNAN DAYA SAING NASION DAN GLOBAL.

4. Harus melakukan reformasi total model dan modal bangunan konsep penataan energi yg lbh rasional : sesuaikan dgn daya topang lokal agar timbul sinergi antara stimulasi dana pembangunan ( hsl hutang) dgn daya topang sumber daya lokal, pada titik yg sdh ditengukan Indonesia bisa mamdiri. Kemandirian energi nasional akan bertumpu pada daya sumbang kongkrit potensi energi lokal.

5. Hindari model penyeragaman sumber energi di setiap daerah . Konsep penyeragaman sumber energi ke BBM adalah sikap dan cara tdk rasional , tdk kreatif serta tdk kompetitif bangsa .

6. Indonesia harus yakin bhw jika ada keserousan utk mengelola dan mampu MENABUNG ENERGI TERBARUKAN ( Matahari, gelombang & angin)  , suatu saat INDONESIA akan jadi NEGARA PRODUSEN UTAMA ENERGI TERBARUKAN ( akan mu cul produk2 aki, battery dan panel lain yg terkait itu).

Negara Amerika & Eropa sfg berusaha keras MEMANEN ENERGI MATA HARI dgn cara melu curkan / membangun PANEL/ PERISAI di Angkasa ( Partikel2 sinar matahari utk warga bumi dengan CERDAS & CERDIK sedang di tambang/ panen dgn cara yg efektif ).
Bersambung ....!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN seorang ibu untuk anaknya, bernama KENFUA' yang ingin menjadi GUBERNUR NTT

Anakku, saya dengar engkau mau calonkan diri menjadi Gubernur NTT? Benarkah? Kalau benar, maka dengarkan pesan mama: Saya berharap, agar engkau menyadari bahwa menjadi pemimipin itu tidak mudah. Tidak semua yang BERPENDIDIDKAN TINGGI  bisa menjadi pemimpin. Tidak semua yang BICARA HEBAT DI PANGGUNG bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang pandai MENGAMBIL HATI bisa jadi pemimpin. Tidak semua yang PUNYA UANG bisa jadi pemimpin. Saya harap, engkau sadari ini semua, agar engkau bisa MENGUKUR DIRIMU. Jangan mau jadi pemimpin yang setelah dipilih, BINGUNG MAU  BUAT APA? HILANG AKAL dan nampak DANGKAL. Akhirnya engkau diperalat oleh mereka yang mendukungmu dengan uang saat kampanye. Engkau hanya akan jadi boneka dalam kepemimpinanmu. Ingat anakku sayang: Memimpin itu perlu jadi MANUSIA YANG SEIMBANG. Ia harus cerdas, bijaksana, punya komitmen, punya daya juang yang tulus, beriman, rela berkorban dan punya budaya  "RASA MALU" agar tidak mudah jatuh dalam hal-hal yang meng...

Tentang Sa Pu Juang Yang Engko Buang

Jangan bilang kalo Sa pu perasaan dingin ni akan tumbuh dan menetap, hingga te ada ruang sisa di Sa pu hati buat Engko datang kembali. Sa selalu punya sangka baik buat Engko, Sa te pernah sedikitpun meragukan semua Engko pu alasan, sampe semua Engko pu keputusan Sa selalu terima dengan tulus. Me akhir-akhir ini Sa pu perasaan ragu so mulai tumbuh jo menetap, sampe Sa selalu tanya-tanya pada Sa pu diri, kenapa ee sampe begini ni ka...? Jangan sampe selama ini Sa selalu salah ambil langkah ee...? atau sebaliknya. Atau mungkin karena Sa selalu beri Engko ruang kebebasan, sampe Engko buat ikut Engko pu mau tu ka. Sa bingung le Engko buat sa macam jo orang lain tu ka, Engko te ada rasa miliki Sa tu ka. Sa selalu berjuang dengan semua Sa pu kemampuan biar Engko bisa terima Sa, bisa buat Sa jadi Engko pu rumah paling nyaman, tapi Engko te pernah hargai semua yang Sa buat untuk Engko tu ka....  Jo benar eeee... akhirnya Sa tau apa artinya yang orang-orang biasa sebut bilang "Lelah jo Meny...

Pentingnya Politik Keterwakilan Di Lamaholot?

Abdul Munir Sara Kemarin ketika kami ke Kutai Kartanegara-Kaltim dalam suatu acara BM PAN; betapa kagetnya, dia punya APBD sekitar Rp.9 triliun pada tahun 2017, tapi kondisi infrastruktur mengenaskan. Secara regional, terjadi penyusutan angkatan kerja sekitar 61 ribu orang ditahun 2016 berdasarkan data BPS. Penyebabnya harga komoditas global yang menurun sejak 2016; menjadi faktor slow down harga batu bara sebagai komoditas unggulan Kaltim khususnya kabupaten Kukar. Saya sempat bicara dengan teman-teman DPRD II terkait perpolitikan disana. Betapa kagetnya. Untuk mengamankan suara saja, per orang paling rendah Rp.250.000. Bahkan wilayah perkotaan; kisarannya bisa sampe Rp.1 juta per suara. Belum agi wilayah yang susah di Jangkau, di kawasan perbatasan. Ini hampir berlaku masif atau semacam harga pasaran politik transaksional disana. Saya berharap, momok demokrasi macam ini tak terjadi di NTT. Jadi kita bayangkan, seperti apa rupa politik anggaran disana. Sudah bisa dipastikan...